La Tenri Rawe Bongkang-E (1568–1584)
Juni 30, 2008 — tomanurung
La Tenri Rawe BongkangE menggantikan ayahnya La Uliyo Bote’E menjadi
Arumpone. La Tenri Rawe kawin dengan We Tenri Pakiu Arung Timurung
MaccimpoE anak dari La Maddussila dengan isterinya We Tenri Lekke.
La Tenri Rawe dengan isterinya Arung Timurung melahirkan anak yang
bernama ; La Maggalatung, inilah yang dipersiapkan untuk menjadi putra
mahkota menggantikan ayahnya sebagai Arumpone, dia meninggal dunia
semasa kecil. Yang kedua bernama ; La Tenri Sompa dipersiapkan untuk
menjadi Arung Timurung, tetapi juga meninggal karena dibunuh oleh orang
yang bernama Dangkali.
Ketika menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenri Rawe sangat dicintai oleh
orang banyak karena memiliki sifat-sifat seperti ; berbudi pekerti yang
baik, jujur, dermawan, adil dan sangat bijaksana. Dia tidak membedakan
antara keluarganya yang memiliki turunan bangsawan dengan keluarganya
dari orang biasa.
Sebagai Arumpone, La Tenri Rawe yang pertamalah membagi tugas-tugas
(makkajennangeng) seperti: yang bertugas mengurus jowa (pengawal), yang
bertugas mengurus anak bangsawan dan yang mengurus wanuwa.
Pada masa pemerintahannya pernah dikunjungi oleh KaraengE ri Gowa masuk
ke Bone untuk menyabung ayam. Dalam pertarungan itu, ayam KaraengE ri
Gowa terbunuh oleh ayam Arumpone dengan taruhan seratus kati. Pada masa
pemerintahannya pula seluruh orang Ajangale’ datang menggabungkan diri
di Bone. Ditaklukkanlah Awo Teko, Attassalo dan lain-lain.
TellumpoccoE juga datang menggabungkan Babanna Gowa di Bone dan
diterima kemudian didudukkanlah sebagai daerah bawahan dari Bone. Hal
ini membuat KaraengE ri Gowa marah dan menyusul masuk ke Bone.
Bertemulah orang Gowa dengan orang Bone di sebelah selatan Mare dan
berperang selama tujuh hari tujuh malam, baru berdamai. Jelaslah
kekuasaan orang Bone pada bahagian selatan Sungai Tangka ke atas.
Datu Soppeng Rilau yang diturunkan dari tahtanya datang ke Bone untuk
minta perlindungan. Karena Datu Soppeng Rilau yang bernama La
Makkarodda To Tenri Bali MabbeluwaE merasa terdesak. Tidak lama setelah
berada di Bone, ia pun kawin dengan saudara Arumpone yang bernama We
Tenri Pakkuwa. Dari perkawinannya itu lahir anak perempuan , We Dangke
atau We Basi LebaE ri Mario Riwawo.
Saudara Arumpone yang bernama We Lempe kawin dengan sepupu dua
kalinya yang bernama La Saliwu Arung Palakka. Dari perkawinannya itu
melahirkan anak ; La Tenri Ruwa MatinroE ri Bantaeng kawin dengan sepupu
satu kalinya yang bernama We Dangke. La Tenri Ruwa adalah nenek
MatinroE ri Bontoala.
Suatu saat, Bone didatangi oleh Gowa dan terjadilah perang di Cellu.
Perang berlangsung selama lima hari lima malam dan orang Gowa mundur.
Dua tahun kemudian datang KaraengE ri Gowa untuk menyerang lagi. Kali
ini perang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Orang Gowa
mengambil tempat pertahanan di Walenna, tetapi KaraengE ri Gowa
tiba-tiba terserang penyakit, maka ia harus kembali ke kampungnya.
Konon, ketika sampai di Gowa ia pun meninggal dunia.
Hanya kurang lebih dua bulan kemudian, datang lagi KaraengE ri Gowa
yang bernama Daeng Parukka yang menggantikan ayahnya untuk kembali
menyerang Bone. Mendengar bahwa Gowa kembali, maka seluruh orang
Ajangale’ dan orang Timurung datang membantu Bone. Adapun Limampanuwa
Rilau Ale’ berkedudukan di Cinennung.
Sementara orang Awampone berkedudukan di Pappolo berdekatan dengan
benteng pertahanan KaraengE ri Gowa. Terjadilah perang yang sangat
dahsyat. Orang Gowa menyerbu ke arah selatan, membakar Kampung Bukaka
dan Takke Ujung. Akhirnya Karaeng Gowa tewas terbunuh.
Daeng Padulung salah seorang pembesar Gowa yang menjadi pemimpin
perang nampaknya sudah kewalahan menghadapi serangan orang Bone. Oleh
karena itu Karaeng Tallo memerintahkan utusannya untuk menemui Arumpone.
Adapun yang disampaikan oleh utusan Karaeng Tallo adalah,
”Kami telah kehilangan dua Karaeng (pemimpin) yaitu satu
tewas di tempat tidur dan satu lagi tewas di lapangan. Tetapi sekarang
kami menghendaki kebaikan.”
Berkata Kajao Laliddong,
”Kalau begitu pendapatmu, besok pagi saya akan menemui KaraengE”.
Keesokan harinya keluarlah Kajao Laliddong selaku penasehat Arumpone
untuk menemui KaraengE ri Tallo. Dalam pertemuannya itu, terjadilah
kesepakatan mengangkat Daeng Patobo menjadi Karaeng ri Gowa.
Ketika menjadi Arumpone La Tenri Rawe BongkangE pernah bertentangan
dengan Datu Luwu yang bernama Sagariya karena orang Luwu naik lagi ke
Cenrana. Maka wanuwa Cenrana telah dua kali direbut dengan kekuatan
senjata (riala bessi) oleh orang Bone.
Untuk memperkuat kedudukan Bone sebagai suatu kerajaan yang tangguh,
La Tenri Rawe menjalin hubungan kerja sama dengan Arung Matowa Wajo yang
bernama To Uddamang. Begitu juga dengan Datu Soppeng yang bernama
PollipuE. Maka diadakanlah pertemuan di Cenrana untuk memperkuat
hubungan antara Bone, Soppeng dan Wajo.
Adapun kesepakatan yang diambil di Cenrana adalah ketiganya akan
mengadakan pertemuan lanjutan di Timurung. Setelah sampai pada waktu
yang telah ditentukan, maka berkumpullah orang Bone, orang Soppeng dan
orang Wajo di suatu tempat yang bernama Bunne. Ketiganya mengucapkan
ikrar,
”Tessiabiccukeng – Tessiacinnai ulaweng tasa – Pattola
malampe waramparang maega” (tidak saling memandang rendah – tidak saling
iri hati – saling mengakui kepemilikan). Setelah itu barulah ketiganya
mallamumpatu (meneggelamkan batu) sebagai tanda kuatnya perjanjian
tersebut, sehingga disebutlah – LamumpatuE ri Timurung.”
Inilah catatan yang menjelaskan TellumpoccoE (Bone – Soppeng – Wajo)
yang terkandung dalam perjanjian yang diadakan oleh La Tenri Rawe
BongkangE (Bone), To Uddamang (Wajo) dan La Mata Esso (Soppeng).
Ketika sampai pada hari yang telah disepakati, bertemulah di Timurung.
Datanglah Arumpone, diikuti oleh seluruh Palili Bone. Datang juga Arung
Matowa Wajo yang bernama La Mungkace To Uddamang MatinroE ri Kanana.
Selanjutnya datang juga Datu Soppeng yang bernama La Mappaleppe PatolaE
Arung Belo MatinroE ri Tanana. Diikuti pula oleh seluruh Palili Soppeng
dan Wajo.
Pertemuan tiga kerajaan yang lebih dikenal dengan nama Pertemuan
TellumpoccoE tersebut diadakan di Timurung di suatu kampung kecil yang
bernama Bunne. Dalam pertemuan tersebut Arung Matowa Wajo bertanya
kepada Arumpone,
”Bagaimana mungkin Arumpone, untuk kita hubungkan tanah
kita bertiga, sementara Wajo adalah kekuasaan Gowa. Kemudian kita tahu
bahwa antara Bone dengan Gowa juga memiliki hubungan yang kuat”.
Arumpone menjawab,
”Itu pertanyaan yang bagus Arung Matowa. Tetapi yang
menjalin hubungan disini adalah Bone, Soppeng dan Wajo. Selanjutnya Bone
menjalin hubungan dengan Gowa. Kalau Gowa masih mau menguasai Wajo,
maka kita bertiga melawannya”.
Pernyataan Arumpone tersebut diiyakan oleh Arung Matowa Wajo. Berkata pula PollipuE ri Soppeng,
”Bagus sekali pendapatmu Arumpone, tanah kita bertiga
bersaudara. Tetapi saya minta agar tanah Soppeng adalah pusaka tanah
Bone dan Wajo. Sebab yang namanya bersaudara, berarti sejajar”.
Arumpone menjawab,
”Bagaimana pendapatmu Arung Matowa, sebab menurutku apa yang dikatakan oleh PollipuE adalah benar”.
Arung Matowa Wajo menjawab,
”Saya kira tanah kita bertiga akan rusak apabila ada yang
namanya – sipoana’ (ada yang menganggap dirinya tua dan ada yang
muda).”
Berkata lagi Arumpone,
”Saya setuju dengan itu, tetapi tidak apalah saya berikan
kepada Soppeng Gowagowa dan sekitarnya untuk penambah daki, agar tanah
kita bertiga tetap bersaudara”.
Berkata pula Arung Matowa Wajo,
”Bagus pendapatmu Arumpone, saya juga akan memberikan Soppeng penambah daki yaitu Baringeng, Lompulle dan sekitarnya”.
Datu Soppeng dan Tau TongengE berkata,
”Terima kasih atas maksud baikmu itu, karena tanah kita
bertiga telah bersaudara, tidak saling menjerumuskan kepada hal yang
tidak dikehendaki, kita bekerja sama dalam hal yang kita sama
kehendaki”.
Berkata Arumpone dan Arung Matowa Wajo,
”Kita bertiga telah sepakat, maka baiklah kita bertiga
meneggelamkan batu, disaksikan oleh Dewata SeuwaE, siapa yang
mengingkari perjanjiannya dialah yang ditindis oleh batu itu”.
Berkatalah
Arung MatowaE ri Wajo kepada
Kajao Laliddong sebagai orang pintarnya Bone,
”Janganlah dulu menanam itu batu, Kajao! Sebab saya masih
ada yang akan kukatakan bahwa persaudaraan TellumpoccoE tidak akan
saling menjatuhkan, tidak saling berupaya kepada hal-hal yang buruk,
janganlah kita mengingkari perjanjian, siapa yang tidak mau diingatkan,
dialah yang kita serang bersama (diduai), dia yang kita tundukkan”.
Pernyataan Arung MatowaE tersebut disetujui oleh Arumpone dan Datu
Soppeng. Setelah itu ketiganya berikrar untuk ; ”Malilu sipakainge –
rebba sipatokkong – sipedapiri ri peri’ nyameng – tellu tessibaicukkeng –
tessi acinnai ulaweng tasa – pattola malampe waramparang maega – iya
teya ripakainge iya riadduai” (yang khilaf diingatkan – yang rebah
ditopang – saling menyampaikan kesulitan dan kesenangan – tiga tidak ada
yang dikecilkan – tidak saling merebut kekayaan – saling mengakui hak
kepemilikan).
Inilah isi perjanjian TellumpoccoE yang ditindis batu di Timurung,
disaksikan oleh Dewata SeuwaE. Ikrar kesetiaan ini dipegang erat-erat
oleh ketiganya.
Dua tahun setelah perjanjian TellumpoccoE,
La Tenri Rawe BongkangE memanggil saudaranya yang bernama
La Inca. Kepada
La Inca,
La Tenri Rawe menyampaikan bahwa setelah sampai ajalnya, maka saudaranyalah
La Inca yang diserahkan kedudukan sebagai
Mangkau’ di Bone karena dirinya tidak memiliki
ana’ pattola (putra mahkota).
Karena pada saat meninggal, jenazahnya dibakar dan abunya dimasukkan ke dalam guci, maka digelarlah
La Tenri Rawe BongkangE MatinroE ri Gucinna.
KERAJAAN BONE « pmbarumponepnup said
Akkarungeng | iyulachmad said